>

Guestbook Rolling Widget

PEMBALASAN

Senin, 18 Oktober 2010 Label:

Pembalasan merupakan roman karya sastrawan Pujangga baru yang diterbitkan oleh PN. Balai Pustaka pada tahun 1935. Roman ini adalah hasil buah tangan dari H.S.D Muntu.

Tema Cerita : Masalah keserakahan seorang manusia yang akan menguasai hak milik orang lain, serta masalah hukum karma.

Setting Cerita : Goa ( Sulawesi ) dan Sawah Lunto ( Padang )

Tokoh-tokoh dan Watak :
Daeng Mapata : seorang punggawa yang kaya raya dan sangat berpengaruh dalam masyarakat Goa.
I Mappabangka : anak laki – laki Daeng Mapata. Dia berwatak baik.
I Marabintang : anak perempuan Daeng Mapata. Dia sekaligus sebagai Kakak dari Mappabangka. Dia adalah perempuan yang baik.
Pa Pulando : Orang kepercayaan Daeng Mapata. Dia berhati busuk.
Daeng Manrangka : seorang ketua Penyamun.
I Bodollahi : anak laki – laki dari Pa Pulando.
Uak Sore atau I Soreang : seorang laki- laki yang pemberani.


Ringkasan Cerita :

Suatu cerita terjadi di daerah Goa yang waktu itu dikuasai oleh Belanda. Daeng Mapata mempunyai dua anak, yang satu bernama I Marabintang ( perempuan ) dan I Mappabangka ( laki –laki ). Ketika Daeng Mapata meninggal dunia. I Marabintang sudah beranjak dewasa sedangkan adiknya, I Mappabangka baru berumur 6 tahun. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Daeng Mapata menyerahkan kedua anak nya kepada Pa Pulando selaku orang kepercayaannya.

Amanat yang diberikan oleh Daeng Mapata ini rupanya dibalas dengan tidak baik oleh oleh Pa Pulando.Dalam hatinya telah muncul akal busuk. Diam-diam, dia rupanya hendak memanfaatkan kesempatan ini demi meraih segala harta dan kekayaan yang dimiliki oleh Daeng Mapata. Dia bermaksud hendak melenyapkan I Mapabangka. Sedangkan, I Marabintang akan dikawinkan dengan anaknya yang bernama I Bodollahi. Dengan cara begitu, maka secara otomatis semua kekayaan Mapata akan jatuh ke tangan keluarga Pa Pulando.

Siasat itu pun dilaksanakan. Pada suatu malam yang sunyi, Daeng Manrangka dan kawan –kawannya yang merupakan kelompok Penyamun ini, melarikan Mappabangka ke dalam hutan. Rupanya kabar penculikan itu sampai ke telinga patroli polisi pemerintah yang disampaikan oleh seseorang , yang tidak lin adalah orang-orang kepercayaan Pa Pulando sendiri. Para Penyamun yang dipimpin oleh Daeng Manrangka ini diikuti oleh sepasukan patroli pemerintah samapi ke sarangnya. Kemudian terjadilalh pertempurang dahsyat antara pasukan penyamun dengan pasukan patroli polisi. Kedua belah pihak banyak yang menjadi korban. Akan tetapi, kemenangan sebenarnya ada di pihak pasukan patroli. Manrangka sendiri melarikan diri sambil membawa lari I Mappabangka ke Bonthain.

Tidak beberapa lama kemudian, sersan yang memimpin penyerangan ke sarang penyamun pada malam itu oleh pimpinannya dipindahkan ke Bonthain. Ia akhirnya bertemu lagi dengan Daeng Manrangka, kepala penyamun itu di tengah hutan. Dalam pertempuran itu, sersan polisi langsung membunuh Daeng Manrangka. I Mappabangka yang masih kecil, oleh sersan polisi diserahkan kepada tuan Petorok Bonthain, dan tak lama kembali diserahkan kepada sersan untuk dipelihara.

Setelah sukses di Bonthain, sersan itu dipindah tugaskan ke Aceh. I Mappabangka, anak angkatnya itu dibawa serta dan disekolahkan di Aceh. Tapi malang nasib si sersan di Aceh, setelah istrinya meninggal dunia. Dalam sebuah pemberontakan, si sersan itu mati dipancung oleh para pejuang Aceh. Sersan itu meninggal, I Mappabangka diserahkan kepada seorang letnan yang menjadi atasan sersan itu. Akan tetapi, tidak berapa lama kemudian letnan itu pulang ke Belanda dan olehnya I Mappabangka diserahkan ke sipir penjara di Kotaraja untuk dididik bekerja. Sampai besar I Mappabangka ikut pada sipir penjara di Kotaraja, hingga dia menjadi seorang mandor di penjara itu. Ketika I Mappabangka dipindah tugaskan ke Sawah Lunto, disana ia dibuang dari Makassar karena telah membunuh Pua Nuhung, kawan Pa Pulando. Pertemuan I Mappabangka dengan I Soreang di sawah Lunto itu sangat mengharukan. I Soreang sangat kaget bertemu dengan I Mappabangka, sebab di kira I Mappabangka telah meninggal dunia sewaktu terjadi penyerangan ke sarang penyamun pimpinan Daeng Manrangka.

Sungguh gembiranyahati I Soreang bertemu lagi dengan putra seorang bangsawan dan punggawa yang sangat dia kagumi itu. Dan itu berarti, bahwa usaha-usahanya adalah mencegah pembunuhan yang akan dilakukan oleh Daeng Manrangka dan kawan-kawannya terhadap I Mappabangka, yaitu dengan jalan memberi tahu kepada patroli polisi, tempo dulu itu berhasil menyelamatkan I Mappabangka. Semua itu diceritakan I Soreang pada Mappabangka, sehingga ia mengetahui siapa sebenarnya I Soreang atau Uak Sore.
Kedua orang ini kemudian pulang ke Makassar. Karena keberanian dan besarnya jasa yang diperbuat oleh I Soreang maka, dia kemudian dibebaskan dari hukuman.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

wibiya widget

 
Kedai Roman Indonesia © 2010 | Designed by My Blogger Themes | Blogger Template by Blog Zone